MUI Kritik Tiga Sinetron yang Menodai Ramadhan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritik tiga sinetron yang ditayangkan TV swasta di bulan Ramadhan

“Siaran yang dikritik Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu dianggap tidak pantas disiarkan dan dinilai menodai masa bulan Ramadhan. Ketiga sinetron tersebut, yakni Tangisan Isabela pukul 18.00-19.00, Jiran yang ditayangkan pukul 19.00-20.00, dan sinetron Inayah pada pukul 20.00-21.00.

“Ketiga tayangan tersebut disiarkan sehabis Magrib. Ketiganya penuh adegan kekerasan dan kata-kata kasar, pelecehan perempuan, dan melecehkan nilai agama,” ujar Kepala Bagian
Informasi MUI Said Baduari dalam jumpa pers bersama Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) di Gedung MUI Menteng, Jakarta, Kamis (3/8).

Penilaian MUI, menurut Said, tiga sinetron tersebut pantas diberi catatan khusus. Pada sinetron Jiran, MUI memberikan kritik, karena sinetron yang diproduseri Ram Soraya ini menonjolkan adegan kekerasan secara
vulgar.

Dia menyontohkan, kekerasan terhadap Jiran oleh kerabat Sultan dalam upaya menyakiti Jiran dan menggugurkan kandungan. “Sinetron Jiran, minim unsur pendidikan dan hanya membangkitkan sentimen anti-Malaysia,”
kata Said.

Sinetron Jiran, tutur dia, juga merendahkan dan melecehkan martabat perempuan. Pasalnya, dalam sinetron tersebut terdapat adegan jual beli perempuan kepada orang lain, tanpa kritik
berarti.

“Jiran juga penuh ucapan kasar, makian, dan bentakan. Seperti ucapan Sultan yang akan membunuh Mak Cik Noor bila menghalangi keinginan Sultan,” ujar Said.

Kekerasan

Kritik MUI, dikatakan Said, juga mengena pada sinetron Tangisan Isabela. Sinetron produksi Soraya Intercine Film ini dianggap menonjolkan kekerasan dan kata-kata kasar secara vulgar.

“Misalnya adu jotos dan adu mulut antara Imran dan Faris, hingga Imran menodongkan pistol ke pelipis Faris. Berhamburan kata-kata kasar dan makian di antara keduanya,” katanya.

Tangisan Isabela, ucap dia, merendahkan dan melecehkan martabat perempuan, termasuk juga adegan menyakiti, menculik, menyandera hingga mengikat Isabela di tempat tidur. Pada adegan
tersebut, orang-orang di sekitar membiarkan dan tidak ada tindakan atau ucapan yang mengoreksi tindakan tersebut.

“Kalimat yang diucapkan Faris, Imran, dan keluarga kesultanan penuh ucapan kasar dan selalu dengan nada kebencian dan kelicikan,” kata Said.

About YONDY

LET'S LEARN ENGLISH
This entry was posted in Religy. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s